Sore itu mendung menyelimuti bumi. Langit terlihat begitu kelam. Gadis itu tetap terpaku pada laptopnya. Dia memang begitu rajin untuk mengerjakan berbagai tugas. Sejenak Ia melihat rintik-rintik air yang turun membasahi bumi di balik jendela kamar kosnya. Drrt..Drrt..Drrt. handponenya bergetar tanda sebuah telepon menghampiri handphonenya. Ia menengok HPnya sebentar,lalu mulai focus ke Laptonya lagi. Tok..tok ..tok, terdengar pintu diketuk dari luar. “masuk aja nggak di kunci kok,” ucapnya pada orang di balik pintu. “ eh kamu Lan, skripsimu sudah selesai?” tanyanya memulai perbincangan. “belum sih, lagian kamu ngapain sih, rajin amat”. Ayunda hanya senyum mendengar perkataan temannya yang satu ini. Drrt..Drrt..Drrrt.. “Yun, HPmu bunyi yuh?” ujar Wulan sambil ,mengengok ponsel Ayunda yang tengah asik bordering. “Yun, mamamu telfon tuh?” ujarnya sambil berbaring di kasur Yunda. “Biarin aja lan, nanti aja aku telfon mama balik.” Ia kembali terfokus pada laptopnya, sementara Wulan tengah asik membaca novel miliknya.
Sore itu mereka bebincang-bincang amat banyak menghias angkasa(emang bintang kecil). Jam 8 malam Yunda sudah bergelayut dengan alam mimpinya, mungkin Ia begitu lelah mengerjakam tugas-tugasnya. Hingga akhirnya Ia terlupa tidak menelefon mamanya yang tengah menunggu telfon darinya.
Malam semakin larut, wanita tua itu masih setia duduk di kursi tua nan reyot itu. Sesekali Ia memengangkat gagang telefon sambil harap-harap cemas. “ma, sudah larut malam, sebaiknya mama istirahat saja di kamar.” Ucap anak lelakinya penuh perhatian. “tapi, mamamasih menunggu adikmu telefon Ran,! Nanti takutnya, dia telefon terus nggak ada yang ngangkat gimana, mama kan kangen,” ujar mamanya lirih, suaranya sedikit serak, sesekali wanita berkacamata itu terbatuk-batuk. “sudahlah ma. Nanti kalau adik telefon, Rani bakal ngebangunin mama, supaya mama bias bicara dengan adik. Tapi, sekarang mama istirahat dulu ya?”tuturnya pelan sambil membopong mamanya menuju kamar. Mamanya tersenyum senang akan perhatian anak keduanya itu.
Rani terduduk di teras rumahnya. Ia sedari memencet tombol HPnya, lalu ia dekatkan HPnya itu ke kupingnya. “tut..tut…tut..” panggilan terputus begitu saja. Ia mencobanya hingga beberapa kali, namun hasilnya tetap saja sama. Malam semakin larut, lama-lama hatinya kian dongkol. Lalu ia mengirim sebuah text message untuk adiknya.
Kepada : Yunda
Yun., kapan libur? Luangkan sedikit waktumu untuk mengunjngi mama. Mama rindu berat sama kamu. Lalu iamengeklik tombol kirim.
Pagi ini mentari absen untuk menyinari bumi, namun begitu tak pernah membuat gadis 18 tahun itu untuk lalai akan tugasnya. Ia segera berkunjng ke kamar mandinya dengna sesekali menggeliat. “Yun, berangkat yuk?” ajak Wulan yang tuba-tiba masuk ke kamarnya tanpa permisi. Ia segera merangkul tasnya ke bahu. Tak lupa membawa laptop yang sampai saat in masih begitu setia menemaninya dalam menggarap tugas kuliahnya.
Baginya kuliah adalah jembatan menuju kesuksesan. Ia ingin segera lulus kuliah dan segera bekerja. Ia ingin membahagiakan mamanya dengan kesuksesannya tersebut. “hay yun, masuh sibuk?” Tanya seorang pria melihat gadis manis itu terlihat sibuk mengotak-atik laptopnya. “iya nih Yud, kamu tumben kemari. Emang nggak ada jam kuliah?” tanyanya seraya menutup laptop applenya. “enggak ada, ke kantin yuk?”ajaknya, tanpa persetujuan Yudha langsung menarik tangan wanitanya dengan halus. “cieh, Yunda makin nempel aja nih sama Yudha” ujar Wulan yang tengah menikmati baksonya. Yunda hanya tersenyum malu. Yudha memang sudah sejak lama merangkai hubungan dengan Yunda, ia sudah begitu terjerat akan cinta Yunda.
Sore itu, hujan mengguyur kota Jakarta dengan derasnya. Dinginpun mulai menghampiri tubuh Yunda yang sedang memperhatikan rinai hujan dari balik tirai kamarnya. Kilat bersautan menghiasi langit mendung. JEDDARRR.. sebuah petir menyambar keras suasana sore pucat itu. Ia menutup telinganya dan bersembunyi di kolong meja.
“Yunda, kamu dimana sayang. Hujan-hujan begini jangan main petak umpet nak?” ucap mamanya sambil mencari-cari putri bungsunya itu. Ia berkeliling rumah hingga akhirnya menemukan putrid kecilnya itu di bawah meja belajar kamar. “Yunda, keluarlah nak” pinta mamanya. “Yunda takut petir ma. Yunda takut banget.”ujarnya polos, wajahnya ketakutan hingga pucat pasi. “keluarlah nak, Yunda nggak akan ketakutan karena mama akan jagain Yunda.” Yunda pun langsung kelur dan memeluk mamanya dengan erat, sangat erat. Air bening pun membasahi pipi keduanya. Lama mereka berpelukan sampai hujan kini mereda. Ibu baik itu langsung mengusap air mata putrinya penuh haru.
“mama, janngan tinggalin Yunda. Yunda sayang banget sama mama. Yunda juga mau nernyanyi sebuah lagu buat mama Yunda tersayang. Mama mau dengar kan?”. Mamanya tersenyum dan menangguk pada gadis kecilnya. “kasih mama kepada Yunda tak terhigga sepanjang masa.. hanya member tak harap kembali nagai sang surya menyinari dunia..” seusai bernyanyi gadis imut itu bertepuk tangan untuk dirinya sendiri. Raut wajahnya kini berubah sangat cerah melebihi suasana senja yang kini telah terang benderang. “mama.. mama kenapa menangis ma?”Tanya anaknya dengan lugu. Air mata kembali terurai dari mata bulatnya. “mama nggak suka dengan lagu itu? Atau suara yunda jelek ma?”. Mama baik itu langsung memeluk putrinya kembali. “mama.. mama senang sekalli kamu mau menyanyikan lagu itu nuat mama. Yunda teruslah menjadi anak mama yang baik,perhatian, dan bebakti sama papa dan mama. Janji!” setelah menguraikan akan harapannya ibu itu mengacungkan kelingkingnya di depan Yunda. Yunda segera menyambut jemari ibunya dengan penuh bahagia.
Yunda berhenti dari nostalgianya. Ia langsung menyambar HP yang sedari kemarin mati. Ia terkejut melihat panggilan tak dijawab yang mencapai 27 kali itu. “Biarin aja lan, nanti aja aku telfon mama balik.” Ia teringat ucapanya kemarin. Lalu ia membaca pesan dari kakaknya.
Dari : kak Surani
Yun., kapan libur? Luangkan sedikit waktumu untuk mengunjngi mama. Mama rindu berat sama kamu.
Yun. Mama sakit. Pulanglah.
Hatinya menangis lirih melihat pesan dari kakaknya itu. Tanpa piker panjang Ia langsung mengambil jaket dan tasnya. Ia berlari menuju terminal yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Mama tunggu aku datang ma. Yunda begitu merindukan mama,ucapnya membatin. Setelah 5 jam perjalanan sampailah ia ke tanah kelahirannya. Ia langsung menuju Rumah Joglo yang sampai kini masih berdiri kokoh. Ia mulai mengetuk pintu usamg itu. Hatinya semakin cemas melihat rumahnya itu kini telah kosong. “bi Lastri, mama kemana kok rumahnya di gembok?”tanyanya pada tetangga yang baru pulang dari pasar. “mamamu sakit keras sejak 2 minggu yang lalu. Sekarang masih di rawat di RS Bakti Husada”. Setelah berterimakasih.
Ia berlarian menuju ruang mamanya. Perasaan rindu dan cemas berbaur menjadi satu di hatinya. Langkahnya terhenti melihat pria yang sangat di sayanginya. “kamu.. ngapain kamu kemari, belum puas kamu nyakitin mama?” makinya pada adiknya yang barusaja tiba. Kemarahan begitu tergambar jelas di raut wajahnya.“kakak, Yunda mau melihat mama kak, yunda kangen.” Air mata bening meng hiasi pipinya ucapan kakaknya begitu menyayat hatinya. “buat apa? Kurang puas kamu menyakiti hati mama.” Kemarahannya memuncak. “Rani, jangan begitu.” Ujar Lala, kakak Rani. Wajahnya yang marah kini mulai teduh. Air mata yang susah-susah di tahan kini keluar juga. “masuklah, mama sudah menunggumu.” Ucapnya tak tega.
Ia langsung memeluk tubuh mamanya yang kini terbaring lemah tanpa daya. “ma..ma..ma..mama..”panggilnya sesenggukan bersama tangis. “ma..mama maafin Yunda, yunda udah bikin mama sakit. Yunda minta mamaf mama.. yunda belum bias jadi yang terbaik buat mama, Yunda juga sakit, melihat mama sakit.. yunda…” katanya terhenti, baju keduanya kini telah basah oleh air mata. “jadilah anak bunda seperti 13 tahun lalu sayang.” Mereka semua terdiam sejenak. “kasih ma..ma kepada Yun..yun..da tak terhigga sepanjang masa.. hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia..” tangisnya tak henti menemani lagunya. Kedua kakaknya takkuasa menahan ai r mata melihat adegan galau ini. Mamanya tersenyum tipis dalam tangis harunya. Waktunya kini telah tiba ,.. “Asyhadu alla ilaha ilallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rosuluh” ucapnya penuh sakit. “mamaaaaaaaaa……” teriak Yunda histeris. “Yunda, memang ini yang ditunggu mama, mama itu bertahan untuk melihatmu yang terakhir kalinya.” Tutur Rani bijak, hatinya sangat sakit. Yunda pun tak menyangka ini akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan mama.
Tangis kini membanjiri gundukan tanah merah itu. Untuk trakhir kalinya Yunda menyanyikan lagu kesukaan mamanya. “kasih ma..ma kepada Yun..yun..da tak terhigga sepanjang masa.. hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia..”. “sudahlah Yunda jangan terus menangis, mama sudah memaafkanmu yun, kita pergi yuk, jangan berlarut dalam kesedihan ni. Mama pasti ingin melihatmu tersenyum. Bukan menangis.” Mereka pun beranjak dari makam tersebut. Terlihat seorang wanita berbaju putih bersih tengah tersenyum dan kiss bye untuknya.. kakak beradik itu segera menangkap kiss itu dan mendekatkan genggaman itu ke dada masing-masing.
Kau mengulum senyummu saat aku menangis..
Saat tangisanku pecah, Kau tersenyum bahagia..
Perjuanganmu tak sia-sia..
Aku berterima kasih karna kau membuatku hadir..
Dengan segelintir harapan, kini dunia menyambutku oleh jasamu..
Kau.. mama…
Saat tangisanku pecah, Kau tersenyum bahagia..
Perjuanganmu tak sia-sia..
Aku berterima kasih karna kau membuatku hadir..
Dengan segelintir harapan, kini dunia menyambutku oleh jasamu..
Kau.. mama…
This is fiction from : Nofita Purwaningtyas
